Gudang itu semakin dingin ketika malam turun sepenuhnya. Lampu-lampu industri yang menggantung di langit-langit sesekali berkedip, mengeluarkan dengung listrik yang memecah kesunyian.

Valentine masih terduduk di kursi besi dengan kedua tangan terikat di belakang tubuhnya. Pergelangan tangannya mulai mati rasa. Setiap kali ia mencoba mengubah posisi duduk, kabel plastik itu semakin mengiris kulitnya.

Ia tidak lagi menangis, bukan karena sudah tenang. Melainkan karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata.

Di hadapannya, beberapa pria sibuk memeriksa magasin senjata. Ada yang tertawa sambil bermain kartu, ada pula yang berbicara melalui radio komunikasi. Mereka tampak begitu santai, seolah sedang menunggu tamu yang sudah dipastikan akan datang.

Salah seorang pria bertubuh besar menghampiri Valentine sambil membawa sebuah kursi kayu. Ia membalik kursi itu, lalu duduk dengan kedua lengan bertumpu pada sandarannya.

“You know what’s funny?” tanyanya sambil menatap Valentine cukup lama. Valentine tidak menjawab, pria itu tersenyum tipis.

“Your father begged the High Table for mercy.”

Ia berhenti sejenak.

“But Dominic…”

“…he never begged.”

Valentine perlahan mengangkat kepalanya. Pria itu mengangguk kecil, seolah sedang menikmati kebingungan yang terlihat jelas di wajah pemuda itu.

“He slaughtered everyone who stood in his way.”

Suasana kembali sunyi.

“Do you know how many men are outside this building?”

Valentine tetap diam.

“Forty-three.”

Ia mengangkat satu jari.

“And that’s only because we expected him.”

Kalimat itu membuat tenggorokan Valentine terasa semakin kering.

“Forty-three against one.”